Merawat Persatuan di Tahun Politik

Dr. H. Abdul Wahid, M.A.

Dr. H. Abdul Wahid, M.A.

Indonesia sebagai salah satu negara yang menganut sistem demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika. Namun tak jarang masih dinodai dengan hal-hal yang menjurus pada pertengkaran dan perpercahan di tengah masyarakat. Hal ini terjadi paling tidak karena adanya ulah oknum tertentu yang ingin mengacaukan dan mengaburkan makna demokrasi itu sendiri. Di sisi lain karena masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap subtansi demokrasi.

Demokrasi yang berlaku di Indonesia adalah demokrasi pancasila. Dalam arti bahwa muatan dan proses demokrasi tersebut harus diinspirasi dari pesan-pesan moral yang terkandung dalam setiap sila dalam pancasila tersebut. Pancasila adalah merupakan lem perekat keragaman anak bangsa, baik dari aspek agama, suku, budaya, etnik dan lain sebagainya. Karena itu sudah menjadi kewajiban kita semua sebagai anak bangsa agar dapat merawat kebinekaan demi terwujudnya pesta demokrasi yang aman dan damai.

Kehadiran pancasila sebagai falsafah dalam bernegara di Indonesia merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa ini pada masa lampau yang diwariskan kepada kita hingga saat ini. Pancasila hingga kini masih diyakini adalah satu-satunya sistem dan falsafah bernegara yang paling tepat karena dapat merangkul semua golongan dan agama yang ada di Indonesia.

Islam sendiri sebagai agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Indonesia, pada dasarnya telah menerima pancasila sebagai falsafah dalam bernegara dengan alasan karena antara Islam dan pancasila secara subtansi memiliki relevansi yang saling menguatkan.

Namun demikian secara empirik, harus diakui bahwa tantangan kantibmas di tahun politik saat ini begitu besar, hal ini tidak hanya karena disebabkan oleh momen politik itu sendiri, akan tetapi depengaruhi oleh massifnya informasi melalui media terutama media sosial di tengah masyarakat.

Kehadiran media sosial ibarat dua mata pisau, disatu sisi memiliki dampak positif dan di sisi lain melahirkan dampak negatif. Dalam konteks bagaimana menghadirkan pileg dan pilpres yang aman dan damai, maka sudah sejatinya kita sebagai anak bangsa, harus menyadari dengan sepenuh hati bahwa kelangsungan NKRI yang telah diwariskan oleh para pahlawan di masa silam berada di tangan kita semua. Di banyak negara Timur Tengah khususnya, tidak sedikit mereka hancur, saling bunuh-membunuh diawali dari pemberitaan melalui media sosial yang tidak dicermati dan diverivikasi dengan baik.

Dari perpektif Islam, kedamaian dan keamanan secara normatif telah dijelaskan oleh al-Qur’an, misalnya terungkap dalam ayat berikut: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya (QS. al-‘Araf: 56).

Dalam ayat ini sangat jelas larangan bagi setiap muslim untuk tidak merusak lingkungan. Kerusakan lingkungan tidak hanya berkonotasi rusaknya alam dalam arti geografis atau fisik, akan tetapi kerusakan lingkungan dalam ayat ini juga bermakna rusaknya moral dan akhlak di tengah masyarakat.

Karena itu, untuk menghadirkan pesta demokrasi yang aman dan damai, maka minimal ada lima langkah yang harus diperhatikan diantaranya:

Pertama: Mengedepankan sikap toleran terhadap orang lain. Sikap toleran dalam Islam sepadan dengan istilah tasamuh yang artinya berupaya mencari titik temu terhadap perbedaan yang ada. Eksistensi perbedaan dalam kehidupan nyata tentu tidak dapat dielakkan, baik perbedaan suku, bangsa, agama, termasuk pilihan politik. Karena itu, jika dipahami dengan baik, bahwa dibalik perbedaan terdapat hikmah yang luar biasa bagi kita, misalnya dengan perbedaan akan mendorong kita untuk saling melengkapi, dan mengenal satu sama lain yang oleh al-Qur’an disebut dengan istilah li ta’arafu. (QS. al-Hujurat: 13).

Kedua, Membebaskan hati kita dari sifat iri dan dengki. Rasulullah saw. pernah mengungkap dalam salah satu hadisnya” Ingatlah bahwa di dalam jasad manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari, dan Muslim).

Gangguan kantibmas di lapangan, biasanya terjadi bermula dari adanya penyakit hati dari seorang manusia, akibat dari penyakit ini kemudian muncullah rasa benci kepada orang lain khususnya yang berbeda pilihan politik dengannya. Rasa benci ini kemudian diterjemahkan dengan cara menebar fitnah, hoax dan sejenisnya, agar orang yang ia benci tersebut mendapatkan bahaya dari apa yang ia tuduhkan. Pantaslah dalam Islam, jauh-jauh sebelumnya telah dilarang untuk melakukan perbuatan yang demikian, “Dari Anas r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua saling benci-membenci, saling dengki, dan saling memutuskan ikatan persahabatan atau kekeluargaan dan jadilah engkau semua namba-hamba Allah sebagai saudara-saudara…(HR. Bukhari, Muslim).

Ketiga: Menebarkan prinsip persaudaraan bukan permusuhan. Kesadaran akan kita sebagai sesama anak bangsa bersaudara dan sesama muslim bersaudara, akan dapat meminimalisir terjadinya gangguan kantibmas dan akhirnya terwujudlah kedamaian dan keamanan di alam demokrasi. Bukankah sampai hari ini model untuk menggapai kepercayaan dan mandat dari masyarakat adalah melalui proses demokrasi untuk meraih mufakat. Karena itu, sudah sejatinya demokrasi harus didukung oleh prinsip persaudaraan bukan kebencian. Karenanya jangan mengatasnamakan demokrasi, lalu membuat kita saling bertikai satu sama lain yang pada akhirnya yang rugi adalah kita semua sebagai sesama anak bangsa. Allah swt. mengingatkan “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]:10).

Keempat: Mengedepankan sikap sportivitas. Setiap pehelatan pileg dan pilpres di Indonesia khususnya adalah pada hakikatnya “kompetisi”. Dalam arti, antar satu paslon dan lainnya mereka berkompetisi untuk menawarkan program kerja yang positif kepada rakyat demi kemajuan bangsa.

Karena itu, para kontestan sejatinya harus sibuk untuk memberi argumen program kerja kepada rakyat bukan menebar sentimen mencari kekurangan orang lain. Sebagaimana lazimnya sebuah kompetisi pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Bagi mereka yang menang janganlah terlalu euforia dan yang kalah jangan putus asa. Sebab kemenangan yang hakiki dari sebuah kompetisi demokrasi adalah kita kepercayaan rakyat tersebut tidak disia-siakan. Allah swt. berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (QS. al-Anfal: 27).

Kelima: Menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Pertikaian dan pertengkaran apa pun alasannya tidak akan mendatangkan manfaat bagi kehidupan kita. Karena itu, Islam sebagai agama yang dari awal membawa misi rahmatan lil’alamin jauh-jauh sebelumnya telah menekankan bahwa: “Di antara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi).

Proses demokrasi melalui pileg dan pilpres akan dapat berjalan dengan baik dan aman, jika kita sebagai sesama anak bangsa, berusaha untuk terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti sibuk mencari kekurangan orang lain, sehingga kita lupa berkerja sesuai dengan kapasitas dan porsi kita masing-masing. Walhasil demokrasi hanya sebagai sarana untuk menghadirkan mufakat bukan tujuan. Karena hakikat dari demokrasi adalah bagaimana mandat itu berasal dari rakyat, diawasi oleh rakyat dan untuk kepentingan rakyat.

Oleh: Dr. H. Abdul Wahid, M.A.
(Dosen & Staf Ahli Agama Kapolda Sulawesi Selatan)