Menangkal Gerakan Radikalisme di Indonesia

Yanuardi Syukur

Yanuardi Syukur.

Gerakan radikalisme adalah gerakan yang hendak melakukan perubahan secara mendasar dari akar-akarnya, bersifat ekstrem, dan berkaitan dengan pemerintahan. Sebagai gerakan dari dasar, gerakan radikalisme sejatinya adalah gerakan perubahan yang bisa evolusioner (bergerak lambat) atau revolusioner (bergerak cepat). Semua sangat bergantung pada seberapa kuat gerakan tersebut melakukan penetrasi ideologi, penggalangan massa, dan manuver politik untuk mencapai tujuan.

Di Indonesia, gerakan radikalisme umumnya merujuk kepada gerakan yang hendak mengganti ideologi Pancasila. Secara teoritis, gerakan radikalisme itu bisa dibagi dalam gerakan radikalisme dalam ideologi, radikalisme dalam aksi, radikalisme terorisme, atau mungkin bisa ditambah satu lagi, radikalisme dunia maya. Secara umum, seluruh gerakan ini bermuara pada kesamaan tujuan, yaitu hendak mengganti ideologi.

Setidaknya, ada dua pendapat di masyarakat terkait dengan radikalisme. Pertama, mereka yang mengganggap bahwa radikalisme adalah proyek dari Barat yang bertujuan untuk menghancurkan Indonesia (atau umat Islam). Pendapat ini diperkuat biasanya oleh tulisan Samuel Huntingtong, pakar politik dari Amerika, yang menulis tentang “benturan antar peradaban.” Pasca runtuhnya Uni Soviet, maka Islam menjadi musuh bagi kekuatan Barat.

Pendapat ini semakin diperkuat dengan lahirnya kelompok ISIS pada tahun 2014 yang mendirikan Negara Islam di Irak dan Suriah. Pimpinan gerakan tersebut, Abu Bakar Al-Baghdadi, masih menjadi misteri sampai sekarang. Apakah ia betul-betul pejuang Islam, ataukah ia adalah agen Mossad (sebagaimana tulisan yang viral) ataukah dia sekedar proxy dari negara besar untuk menghancurkan Irak dan Suriah? Entahlah. Akan tetapi, kehadiran ISIS di dua negara itu—disusul dengan bai’at pendukungnya di berbagai negara—menjadikan citra Islam terlihat kasar, kejam, brutal, dan bengis. Citra itu sangat tidak menguntungkan bagi Islam yang dalam ajarannya mengajarkan rahmat, kasih sayang, dan kebaikan untuk semua orang.

Di Indonesia, orang yang berpikiran bahwa radikalisme berasal dari Barat tidak bisa dibilang sedikit. Barat sampai sekarang masih dianggap belum kompatibel dengan Islam. Nilai-nilai barat belum dianggap relevan dengan Islam. Padahal, para tokoh Islam yang tinggal di Barat membuktikan bahwa nilai-nilai Islam menemukan kecocokan dengan nilai Barat, sebutlah Amerika. Imam Shamsi Ali di Amerika misalnya, atau Professor Abdullah Saeed di Australia, adalah dua tokoh yang membuktikan bahwa baik American atau Australian values itu punya kesamaan dengan Islamic values.

Memang tidak mudah untuk menyandingkan antara Islam dan Barat karena sejarah keduanya sejak lama memang tidak akur. Sejarah kerap memperlihatkan bagaimana Islam dan Barat berkonflik selama berabad-abad. Pada dasarnya, baik Islam dan Barat (sebutlah Kristen atau Yahudi), semuanya memiliki sisi tragis masing-masing dalam sejarah. Islam pernah jadi korban, Kristen juga begitu, dan juga Yahudi diusir dari Eropa. Jadi, sama-sama pernah menderita. Cuma, yang menjadi masalah kemudian adalah di zaman dimana dunia sudah seharusnya damai, dan adil, masih ada saja ketidakadilan di dunia. Itulah yang membuat munculnya kelompok perlawanan seperti kelompok HAMAS yang tak putus melawan Israel, atau kelompok Al-Qaeda yang melawan Amerika.

Singkat kata, masyarakat Indonesia yang berpikir bahwa “faktor eksternal” punya pengaruh terhadap radikalisme di Indonesia memiliki logika tersendiri. Di antara mereka ada yang mengutip kitab suci dan menunjukkan bukti-bukti bagaimana ketidakadilan yang dirasakan oleh umat Islam. Sentimen keagamaan berupa ukhuwah Islamiyah pun meningkat di kalangan umat Islam. Dan, itu membuat mereka tidak mudah percaya pada apa yang dihadirkan oleh media massa mainstream, pemerintah, atau orang yang dekat dengan kekuatan Barat.

Kedua, kelompok yang melihat bahwa radikalisme adalah salah satu problem dalam umat Islam akibat salah tafsir terhadap ajaran Islam. Kelompok kedua ini melihat bahwa radikalisme itu memang ada, bahkan radikalisme yang dibarengi dengan terorisme itu memang ada; lahir, bergelut, dan bersiasat menggunakan agama Islam.

Menyadari bahwa radikalisme dan terorisme juga ada di Indonesia, terutama setelah Bom Bali, pemerintah pun membuat berbagai program untuk menangkal radikalisme dan terorisme. Program-program dibuat, akan tetapi anehnya terorisme masih terjadi. Ratusan orang telah ditahan karena terorisme, akan tetapi teror bom masih ada dimana-mana. Pemerintah telah menyelesaikan satu masalah (menangkap) para teroris akan tetapi lalai dalam menyediakan penjara yang kondusif. Misalnya, Rutan Cabang Salemba di Kompleks Mako Brimob, idealnya hanya 90 orang, akan tetapi disesaki dengan sekitar 150 orang. Tentu saja, itu menjadi masalah tersendiri bagi “kenyamanan” dan tujuan dari adanya penjara, yaitu untuk memasyarakatkan para teroris adalah kembali jadi masyarakat biasa.

Saat ini, ada juga konter wacana yang digulirkan yaitu terorisme bukan Islam. Memang, Islam tidak mengenal terorisme, akan tetapi secara antropologis sulit kita menghilangkan tafsiran Islam garis keras dari mereka. Misalnya begini. Apakah keluarga Dita Oepriyanto yang meledakkan diri di tiga gereja di Surabaya itu melakukan aksinya karena tertekan atau stress? Tentu saja tidak. Jawaban paling masuk akal adalah aksi itu dilakukan karena adanya keyakinan bahwa aksi mereka itu suci, dan konsekuensinya nanti adalah surga. Ini keyakinan religi/agama, dan sifatnya supranatural (kegaiban). Maka, mereka tidak merasa takut dengan kematian karena memiliki keyakinan itu tindakan mulia (karena melawan pemerintah yang mereka anggap telah kafir karena tidak menjadikan Islam sebagai hukum) dan kelak mereka masuk surga.

Pemikiran seperti itu memang ada. Dan terorisme yang terjadi tidak lepas dari tafsiran keras terhadap nilai-nilai Islam. Maka, konsep Islam Wasathiyah (Islam jalan tengah) menjadi sangat penting untuk disosialisasikan. Islam yang keras seperti Dita atau Imam Samudra tidak cocok untuk dibawa dan hidup dalam Indonesia yang beragam. Tafsiran keras itu sepatut untuk dibantah oleh para tokoh Islam lainnya dengan menguliti kesalahan tafsir para radikalis-teroris. Sejauh ini, buku-buku yang membantah pemikiran mereka masih jarang. Sebaiknya, buku-buku seperti ini diproduksi lebih massif, gratis, dan beredar massif di media sosial.

Gerakan untuk menangkal pemikiran para radikalis-teroris ini penting sekali dilakukan. Tidak hanya tugas pemerintah, tapi ini tugas mulia seluruh komponen bangsa. Ini menyangkut kebersamaan, keamanan, dan juga kedamaian kita yang hidup di Indonesia. Selama ini saya melihat gerakan-gerakan yang mengcounter pemikiran radikalis-teroris tidak terkoordinasi secara baik. Ada semacam “ego sektoral” dan minim kolaborasi. Padahal, tujuan para gerakan keindonesia—sebutlah begitu—adalah sama, untuk menjaga dan merawat Indonesia sebagai negeri yang aman, damai, dan berkah untuk semua warganya,mari kita jaga negara kita dengan menjunjung tinggi nilai nilai nasionalisme dan mencegah gerakan radikalisme yang bisa merusak gerasi bangsa kita.

Oleh Yanuardi Syukur

Peneliti Pusat Kajian Antropologi FISIP UI dan Alumni Unhas